Sabtu, 08 Februari 2014

Spiegel Relaskop Alat Ukur Dimensi Pohon

Spiegel Relaskop merupakan alat ukur dimensi pohon namu selain untuk mengukur dimensi pohon Spiegel Relaskop juga dapat digunakan untuk mengukur jumlah pohon/ha, diameter, tinggi, dan basal area. Alat ini digunakan terutama untuk aplikasi yang melibatkan variabel plot sampel radius dalam survei hutan. Dimensi pohon merupakan beberapa parameter dari suatu individu pohon yang dapat diukur. Dimensi pohon tentu saja berbeda dengan dimensi tegakan dimana objek dalam pengukuran dimensi pohon adalah individu pohon itu sendiri sedangkan objek dalam pengukuran dimensi tegakan adalah kumpulan individu-individu pohon.


Spiegel Relaskop

SPIEGEL : contoh penyesuaian rumusan diamater
1. Celang pandang (a. lensa okuler & 1b. lensa obyektif)
2. Peneduh
3. Celah cahaya
4. Penggantung tali
5. Tombol pegas
6. Lubang sekrup tripod
Jika menengok ke dalam celah pandang melalui lensa okuler (ilustrasi-2) maka akan terlihat sebagian piringan ½ lingkaran yang berskala jarak dan sudut.
Pirngan berskala ½ lingkaran tersebut secara keseluruhan akan terlihat seperti ilustrasi-3.
Rentangan dan kesamaan nilai pada skala sudut Spiegel adalah
 Rentangan nilai sudut :
 skala derajat dari –600 s/d +700
 skala persen dari –175% s/d +275%
 Kesamaan nilai sudut 450 = 100%
Jika membidik sebatang pohon, maka kemungkinan posisi sisi batang (kiri dan kanan) yang terlihat seperti ilustrasi-4.
Dari ilustrasi di atas bahwa pohon yang dapat dijadikan contoh (diukur) paling tidak posisi sisi kiri dan kanan batang berada dalam 1 barpenuh (warna putih paling kanan). Jika tidak maka dinyatakan sebagai bukan pohon contoh.
Rumusan dasar digunakan untuk menentukan besaran diameter adalah
D (cm) = [{(nF x 4) + nQ}/2] . Jd
Rumusan ini hanya berlaku pada lapangan yang relatif datar dan dinyatakan sebagai pengukuran jarak datar. Jika lapangan tidak datar (berbentuk lereng) berarti kedudukan si pengukur dan kedudukan berdiri pohon berdiri tidak berada dalam satu bidang datar. Ketidak-dataran ini dapat ditoleransi jika sudut yang dibentuk kurang dari 10% (Simon, 1996). Jika melebihi maka rumusan dasar di atas perlu diadakan penyesuaian.
Bentuk penyesuaian (koreksi sudut) menggunakan rumus cosinus dengan memperhatikan skala tegak (vertikal) dalam celah pandang (skala degree berkisar –900 s/d +900 atau skala persen –150% s/d +150%) dan kesamaan besaran sudut 450 = 100%.
Jm = Jd/(cos φ) atau Jd = Jm cos(φ)
Bila nilai φ = α°, maka Jd = Jm cos(α°)
Bila nilai φ = p%, maka Jd = Jm cos(0,45 p)
Sehingga bentuk penyesuaian rumusan perhitungan besaran diameter :
D (cm) = [{(nF x 4) + nQ}/2] . Jm . cos(α°) …………. satuan sudut ukur dalam derajat
D (cm) = [{(nF x 4) + nQ}/2] . Jm . cos(0,45 p) …… satuan sudut ukur dalam persen
Saat akan melakukan pembacaan skala diameter perhatikan posisi diameter dalam celah pandang :
1. Garis batas batang sebelah kiri (garis tegak) :
a. harus berada tepat di batas antara 2 bar-penuh warna hitam-putih (atau sebaliknya);
b. atau di batas antara 1 bar-penuh warna putih dengan ¼bar warna hitam (dalam celah pandang : gambar bar-penuh warna putih dan ¼bar warna hitam)
2. Garis batas batang sebelah kanan (garis tegak) :
a. paling dekat berada di batas antara 1 bar-penuh warna putih dengan ¼bar warna hitam (dalam celah pandang : gambar bar-penuh berwarna putih dan ¼bar warna hitam);
b. atau paling jauh mengarah ke sebelah kanan, yaitu pada garis batas ¼bar paling kanan (dalam celah pandang : batas sebelah kanan ¼bar warna putih/berbatasan dengan skala % tinggi).
Pohon contoh dan pohon batas adalah pohon yang diukur diameternya, sedangkan bukan pohon contoh tidak dilakukan pengukuran diameter.
Cara pembacaan barnya diilustrasikan seperti berikut
Melalui celah pandang terlihat 3 barpenuh dan 1,5 1/2bar; berarti pula terbaca 3 F dan 1,5 Q. Untuk perhitungan diameternya tergantung jarak pembidikan (meter) dan satuan sudut bidik yang digunakan (derajat atau persen).






0 komentar:

Posting Komentar